Pisau Bermata Dua itu Bernama Daring

Oleh: Rejeki S.L

Satu tahun sudah pandemi ini berlangsung, selama itu pula anak-anak sekolah belajar di rumah. Ya…belajar di rumah (BDR) atau biasa dikenal dengan daring. Satu istilah yang semenjak pandemi  begitu viral dikalangan siswa maupun orang tua siswa. Apa sih, sebenarnya arti daring itu? Menurut KBBI daring adalah akronim “dalam Jaringan, terhubung melalui komputer, internet dsb.” Dilansir dari berbagai sumber, guru, dosen, siswa dan mahasiswa kini melakukan kegiatan belajar mengajar secara daring termasuk pada saat pemberian tugas. Dengan kata lain, pembelajaran daring adalah metode belajar yang menggunakan model interaktif berbasis internet dan Managemen Learning System (LMS). Seperti menggunakan zoom, google meet dll.

Mengalami hal seperti ini sungguh tak terbayangkan sebelumnya. Baik bagi guru, siswa dan orang tua. Semua mau tidak mau, suka tidak suka, harus beradaptasi menghadapi situasi dan kondisi semacam ini. Belajar cepat dalam mengeksplorasi teknologi informatika harus dilakukan. Jika tidak ingin ketinggalan. Padahal kita semua tahu bahwa kondisi masyarakat sangat beragam. Mulai dari kondisi ekonomi, social dan geografis yang berbeda sehingga ada beberapa wilayah di Indonesia yang tak terjangkau jaringan internet. Dan yang lebih penting adalah kemampuan para wali siswa atau orang tua dalam mendampingi putra-putrinya belajar. Banyak sekali kasus yang terjadi di masyarakat penyebab anak tidak terdampingi dalam belajar. Untuk anak-anak usia TK-SD pendampingan dalam pembelajaran daring sebuah keniscayaan.

BDR atau daring diakui memang memliki dampak positif, dunia pendidikan khususnya di Indonesia telah mengalami lompatan digitalisasi yang luar biasa meskipun dipaksakan. Mengutip tulisan Lani Diana Wujaya yang dimuat Tempo.Co pada Kamis, 1 Oktober 2020. Menurut Kadin Pendidikan DKI Jaya Nahdiana dampak positif pembelajaran daring kurang lebih bisa dijabarkan di bawah ini:

  1. Anak memiliki banyak waktu di rumah bersama keluarga.
  2. Metode belajar yang variatif, ketimbang anak hanya belajar di kelas, kini mereka lebih flexibel belajar di rumah.
  3. Anak peka dan beradaptasi dengan perubahan.
  4. Mau tidak mau, anak pasti harus mengeksplorasi perubahan.
  5. Sebagian anak merasa nyaman belajar di rumah karena tidak ada yang memaksa.

Namun demikian sederet dampak negatif justru lebih berbahaya jika tak segera ditemukan solusinya. Masih menurut Kadin Pendidikan DKI Jaya dampak negatif itu antara lain:

  1. Ancaman putus sekolah, karena terpaksa bekerja demi membantu perekonomian keluarga.
  2. Penurunan capaian belajar.
  3. Tanpa sekolah anak berpotensi menjadi korban kekerasan rumah tangga yang tidak terdeteksi oleh guru.
  4. Keterbatasan gawai dan kuota internet sebagai fasilitas penunjang belajar daring.
  5. Anak beresiko kehilangan pembelajaran/learning loss. Pembelajaran tatap muka di kelas menghasilkan capaian akademik lebih baik ketimbang PJJ.
  6. Anak kurang bersosialisasi.

Sebagai guru yang merasa pendidikan karakter atau akhlak lebih utama dari pada sekedar menyampaikan materi pelajaran, mengajar secara virtual tentu bukan sebuah pilihan yang mudah. Seandainya ada pilihan, tentu pembelajaran tatap muka lebih disukai. Banyak sisi positif dalam pembelajaran tatap muka yang hilang. Ikatan emosional atau kedekatan antara guru dan siswa yang akhirnya semakin menipis. Pembelajaran daring ibarat pisau bermata dua. Dampak positif dan negatif senantiasa beriringan.

Namun apapun kondisinya guru haruslah tetap mengajar baik secara virtual maupun non virtual dengan penuh kesungguhan. Karena dalam dunia pendidikan peran guru sangat sentral. Pendidikan merupakan pintu peradaban dunia. Pintu itu tak akan terbuka kecuali dengan satu kunci. Yakni sosok guru yang peduli dengan peradaban dunia.

Share Now

admin

More Posts By admin

Related Post

Leave us a reply